Majalah Digital JanganTulalit

Berdasarkan Hasil Riset Penambahan 10 Persen Pelanggan Seluler Tingkatkan GDP Sebesar 0,4 Persen

12.77K 0

Riset Indosat kerjasama UGM 1Fenomena menarik ini diduga terjadi karena faktor-faktor yang mendukung pengembangan mobile internet seperti infrastruktur, kebijakan pemerintah, regulasi, dan iklim bisnis di Indonesia adalah setara dengan di Thailand dan di India, dan berada di bawah Malaysia. Akibatnya, dampak mobile internet terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia lebih rendah daripada di Malaysia.

“Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terkemuka di Indonesia yang berusia tepat 50 Tahun saat ini, Indosat Ooredoo menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendukung pemerintah dalam mewujudkan masyarakat digital Indonesia (Indonesia Digital Nation). Riset ini bertujuan untuk meningkatkan peran mobile internet dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat baik sosial maupun ekonomi, sekaligus untuk mengetahui dampak negatif yang harus ditangani bersama, sehingga masyarakat akan lebih fokus dalam memaksimalkan manfaat digital bagi kehidupan mereka. Hasil riset ini nantinya juga akan kami sampaikan sebagai rekomendasi kepada pemerintah,” demikian disampaikan Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo.

Seperti yang kita ketahui, mobile internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Pengguna internet di Indonesia telah mencapai hampir 133 juta orang atau sekitar 50 persen dari seluruh penduduk Indonesia (APJI, 2016). Akses terhadap mobile internet diharapkan memberikan manfaat ekonomi dan sosial pada masyarakat. Tujuan riset ini adalah untuk mengkaji dampak ekonomi dan sosial dari mobile internet pada masyarakat, dimana hasilnya akan diberikan sebagai rekomendasi kepada Pemerintah dalam memperkuat dampak positif dari mobile internet terhadap masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB), Fakultas Ekonomika & Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Bambang Riyanto, LS, M.B.A.,Ph.D menyatakan, “Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta menggunakan data jumlah pelanggan jasa telepon seluler (mobile subscription) sebagai indikator variabel perilaku penggunaan mobile internet. Dalam riset ini, secara garis besar fenomena mobile internet dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi, teknologi dan lingkungan sosial, perilaku dalam menggunakan mobile internet, dan dampak sosial dan ekonomi dari mobile internet.”

Riset Indosat kerjasama UGM 2Temuan lain dari riset ini menyebutkan bahwa mobile internet telah merupakan kebutuhan dan telah membentuk mindset dan gaya hidup masyarakat. Namun demikian, masyarakat dinilai telah mengalami overdosis dalam penggunaan mobile internet dimana dijumpai fenomena bahwa mobile internet telah mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Di sisi lain juga ada kekuatiran utama tentang overdosis ini disasarkan pada anak-anak (generasi Z): adiksi, kemampuan berkomunikasi yang menurun, social skills yang menurun bila dibandingkan dengan generasi X maupun generasi Y.

Hasil riset juga menunjukkan mobile internet telah memperluas kesempatan untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Banyak anggota masyarakat yang melakukan moonlighting (menyambi pekerjaan yang mendatangkan tambahan pendapatan), misalnya

dengan jual beli barang online dengan menggunakan mobile internet. Di samping itu juga ada temuan bahwa mobile internet telah memperluas cakupan bisnis, mengefisienkan bisnis, serta meningkatkan produktifitas. Waktu yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis menjadi lebih pendek: pengiriman foto untuk menawarkan pesanan, pengiriman desain mengkonfirmasi pesanan, dll. Secara umum, mobile internet telah mengefisienkan pekerjaan. Misal, koordinasi (logistik, shifts, dll) dapat dilakukan dengan whatsapp group; konfirmasi dapat dilakukan dengan pengiriman foto atau komunikasi via whatsapp.

Seluruh hasil riset ini akan diserahkan kepada pemerintah sebagai rekomendasi dalam mengatur layanan dan industri mobile internet. Beberapa rekomendasi yang akan disampaikan antara lain pentingnya kebijakan pemerintah, pendidikan, diseminasi, dan regulasi merupakan hal yang vital untuk mengendalikan dampak negatif mobile internet seperti lunturnya etika, meningkatnya konflik karena berkurangnya kemampuan dalam berkomunikasi, baik melalui mobile internet maupun secara tatap muka, belum siapnya masyarakat secara “budaya,” dan dampak-dampak negatif lain seperti addiction, hate ad, hoax, fraud, dan cyberbullying.

Rekomendasi lainnya adalah tentang keberadaan infrastruktur dan suprastruktur merupakan hal yang esensial dalam memperkuat dan mendorong dampak positif mobile internet terhadap pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, kita memerlukan peran yang kuat dari Pemerintah untuk mendukung dan menyediakan infrastruktur yang memadai guna mendukung akses masyarakat akan mobile internet, mengedukasi masyarakat akan penggunaan mobile internet yang bijak serta melakukan awareness campaign dalam penggunaan mobile internet yang dapat meningkatkan akses akan kesempatan kerja atau kesempatan berkecimpung dalam usaha mikro atau kecil.

“Kami berharap hasil riset ini akan memberikan pemahaman mengenai perilaku penggunaan mobile internet, dimana dampak mobile internet diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk untuk meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif mobile internet,” demikian Deva Rachman menutup penjelasannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.