News

Hati hati dengan efek kecanduan social media

twitterTeknologi kadang kalau tak digunakan secara bijak bisa menjadi pisau bermata dua, bermanfaat jika dilakukan dan dipergunakan secara benar dan berbahaya bahkan memberikan efek yang merugikan bagi penggunanya kalau digunakan dengan caraya yang salah dan tak bijak. Demikian hal nya saat ini social media yang lagi digandrungi oleh banyak kalangan.

Sebuah hasli penelitian, social media  membuat anak-anak menuntut selalu ada imbal balik dalam hidup mereka. Anak-anak ini akan beresiko tumbuh menjadi pribadi yang obsesif, sulit mengontrol diri, kurang perhatian dan empati. Semua disebabkan oleh kecanduan terhadap situs media sosial seperti Twitter.

Seorang pakar ilmu syaraf, Baroness Grenfeld, profesor farmakologi dari Oxford University mengatakan penurunan kontak sosial dengan manusia, membuat anak-anak kesulitan dengan kemampuan dasar sosialisai dan reaksi emosional. Hal ini disadari karena saat berinteraksi dengan menggunakan social media seperti twitter tak melakukan kontak langsung dengan sesama.

Baroness Grenfeld  mengkritik kecanduan yang tidak sehat, seperti dengan Twitter. Dalam wawancara dengan The Telegraph, dia juga mengkhawatirkan muncul sikap narsis, yang bangga akan popularitas dirinya di media sosial.

Sebuah survey yang dilakukan terhadap guru sekolah menengah di Inggris menyebutkan, lebih dari tiga perempat dari jumlah siswa sekolah, mempunyai ingatan pendek, dari sebelumnya.

Baroness Greenfield memperlihatkan angka, bahwa lebih dari setengah dari remaja yang berusia antara 13-17 tahun, saat ini menghabiskan lebih dari 30 jam dalam seminggu, bermain video games, komputer, e-reader, telepon seluler dan memelototi layar berbasis teknologi. Dikatakan bahwa otak manusia memerlukan lingkungan yang menstimulir untuk tubuh untuk berkembang dengan seharusnya.

Berbicara dalam pertemuan Early Childhood Action group di Inggris, Greenfield mengatakan Facebook dan Twitter menciptakan generasi yang selalu menuntut imbal balik dalam hidupnya. Mereka juga akan mengalami krisis identitas, karena mereka berharap selalu ada perhatian yang konstan dari follower-nya.

Bagaimana dengan anda ? hasil penelitian dan pendapat ini sebenarnya bukan menjadikan kita antipati dengan media social yang berkembang saat ini. Ini merupakan  warning, sebaiknya  kita bersikap  menjadi lebih bijak dan lebih arif dalam menggunakan dan memanfaatkan social media dan terhindar dari efek negative seperti yang dijelaskan diatas.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close